Skip to main content

Posts

Showing posts with the label GO

Bersahabat Alamku

Bayangkan, betapa bodohnya kami!  Sering acuh pada sahabat seirama Pikirkan, betapa kami saling berkaitan Alam bergejolak, kita terasa perih Sebentar, Selamat istirahat kawanku! dikala semua resah Lalu rasakan kesunyian merasuki Tempat dimana bisa mawas diri, mencoba meresapi, ada apa semua ini? Kita seraya berkata Bersahabatlah alamku, Ku tau kau kecewa Sabar, ku tau kau marah Bukankah kita teman paling seirama Meski diri ini pernah menusuk Percayalah, perlahan kita akan semakin memahami Reda, buatlah reda seperti rintik gerimis setelah hujan hebat Itu dapat mensyaduhkan suasana Kau tau itu kan? Tak mungkin kau lupa Sehingga kita bisa saling mengisi dalam harmoni Kembali Bersahabatlah alamku, maafkan kecerobohan yang lalu -gladyoralyanto

Masyarakat Gusar, Katanya!

Gila... apa sudah gila? Banyak peluh dimana - mana Orang - orang semakin tak lagi bisa menggunakan akal bersihnya Lihat saja... banyak salah sasar dan banyak merasa paling benar Saling tuduh di sekitar Saling tunjuk salah diantaranya Tontonan tak banyak menjadi tuntunan Banyak orang pintar, tapi nyatanya ringan menjatuhkan Pinter keblinger kata orang Sekarang mau bagaimana Ketika semua orang jadi semakin tidak benar adanya Tidakkah akan hadir sebuah titik baliknya? -GO

Wah..Sial!

Ah.. bodohnya aku kutarik saja kain itu seketika merubah keadaan! hancur, retak sudah isinya semula normal, semula jalan namun seketika berubah! hitam, bergaris, tak normal! ah bodohnya aku, kutarik kain itu berakhir remuk retak isinya... -GO

Bulan Sejenak Menutup Mentari

Kali ini bulan menutupi mentari yang bersinar Meski tidak semua tertutup olehnya Bulan menunjukkan, bahwa dia mampu menutup terik sang Mentari Meski Bumi menjadi sedikit redup Tetapi begitu hangat dan hilang sedikit pelik Dikala Mentari begitu panasnya Bulan rela memberi raga Agar Bumi sejenak terjaga Dengan begitu terik menyengat menjadi reda Singkat dan sejenak Namun memberi banyak mata terpana Sehingga bisa memberi makna Percayalah kisah ini menjadi sejarah

Malam Tak Pernah Kehilangan Bulan

Malam Tak Pernah Kehilangan Bulan Biarkan bulan datang menyapa Dikala gelap malam dan ramai bintang Kerangka malam tak dapat ditebak Siapa tahu jaraknya langit Untuk menempuh hingga ke bulan Perlahan dengarkan hembus malam Kala melebur diantara kalbu Malam tak pernah lupa Bagaimana ia akan berganti dengan terang Cerita demi cerita yang bertubi terhempas Mengiringi arah angin yang begitu dingin Dimana udara tak lagi menyegarkan Semakin dalam untuk merasa hingga ke relung Dan kemudian Satu hal yang kini nyata Di malam hari, dimana cahaya bulan tak pernah padam Meski dalam gerhana, purnama selalu datang Biarpun tertutup kelabu masih akan tetap hadir dalam sendu -gladyoralyanto

Puisi Pitutur Diri

Pitutur Diri Bukankah jalanmu telah dituliskan Jalan yang begitu terang benderang Bahkan gelap tak akan menyelimuti Lantas apa yang kau risaukan Bukankah pohon akan tetap tumbuh Dengan hijaunya membuat mata berseri Laksana air yang menyegarkan Mengapa kau begitu sayu Bukankah purnama akan selalu datang Bahkan gerhana tidak akan bisa menenggelamkannya Sinarnya selaras dengan tuntunan-Nya Kenapa kau terlihat muram Bukankah embun pagi selalu hadir setelah kelamnya malam Bahkan tetesnya begitu menginspirasi Tak pernah lelah hadir sesaat hilangnya malam Mengapa kau terlalu pupus Laksana syafaat hadir setiap lantunan Pertolongan akan selalu dekat Dimana nikmat akan selalu diberi Keajaiban akan menghampiri -gladyoralyanto

Waktu Datang Malam

Waktu Datang Malam Ada waktu datang dalam diam Perlahan mata memandangi Dibawah naungan perih Tiada rasa dalam raga mengilhami Hanya didapati sesuatu hal muram Pernah, waktu bersahabat Diarungi dengan resah tak berlelah Mendapati secercah lembar buku usang Lembar usang terlupa, lenyap, terpendam Ada waktu cerita pita bercerita, berkata baik tak terbaik Itulah sebabnya yang terpendam semakin tersimpan, semakin keluar Meski di sudut tengah kota membeku Tak kan pernah sedikit nada hilang menemani Apa malam penyesalan hadir meliputi kelam Tenang, tak bersuara, sunyi tak bertepi Dapatkah hapus memori penuh luka Berlari semakin jauh entah untuk apa Api pun tak dapat membakar kenang itu Coba, cobalah tengok sudut lain Cerita pita mempunyai indahnya Meski ditempat pertama terukir kenang itu Tapi, Apanya yang bahagia? katamu Kering, kering, luka semakin mengering Dengar suara berbisik yang semakin mengering Masih tersimpan dalam bait-bait yang hilang Kota ini, sampai ...

Sosok yang Hilang

Sosok yang Hilang Bertahan arungi waktu memang tak mudah Bahkan ketika kehilangan sosok yang ada Bukankah waktu telah terbentang lama Jalan yang terlalui menjadi renta Terbalut pekatnya awan hitam Tak ingat akan rupa dunia Pelik mata selalu membasuh rasa Perhatikan mata yang selalu terjaga Tak akan ada yang memahami arti maknanya Jalan kehidupan apa yang merasukinya Skenario apa yang menjadikannya lemah Namun itu seperti kepompong yang dibiaskan Rindu sosok menjadi tekanan Seperti kata kala itu Semakin disimpan semakin keluar Ada sesuatu yang ditekan dan tertahan Bersabar menunggu jawaban di pundaknya Kemudian bangkit dari tidur lamanya Ada sebuah keyakinan tersimpan Pelik hati tertanam suara yang teredam Pita memiliki ujung, kelam akan selesai pada waktunya Kemudian itu masih terbuka, menanti dalam diam

Menatap

Menatap Berhenti sejenak Kaki semakin tertatih jalani Mata terpejam lelah terjaga Menanti akan cahaya baru Apa yang mereka dapati Bukankah hanya ilusi semata Meski cerita tak lagi sama Dan Masih bersembunyi dalam kelam Terlampau jauh jalan untuk pulang Sendiri merintih dikesunyian Bantulah kawan, meski ceritanya tak teraba Ingatlah tentang suatu kata, Tertulis dalam buku usang yang terpendam Semakin disimpan semakin keluar Lebih dari cerita pita Menatap untuk sebuah pelita Seakan ini berputar pada titik semu Menatap kembali cahaya untuk pulang Sudut tengah kota, sudut tengah harap Betapa pilu tercercah harapan ditulisnya Namun semesta berkata, senja masih memerah Berikan makna, jalan akan indah, ini waktunya Terbangunlah segera semua makna Kembali menatap harap baru Dan, Jika kata tak tersampaikan Rasa tak tersentuh Gelisa semakin terenyuh Percayalah Doa menjadi harapan pasti dikabulkan -gladyoralyanto

Satu Ketika

Satu Ketika Satu ketika tahun mengulangi Berairlah tanah ini menjadi sepi Apa bulat apa tekad satu tak ketika berpadu Jalan kembali sedikit cahaya cerah Bola mata ini mencari Titihan buat tertatih Bayang akan memuai Jalan kencang tuk cari pagi Pagi tak tumpah Cerah tak ada Cahaya kemana kau berada Disini satu ketika tahun mengulangi Biar menguap bersama api menjalar Keadaan tak sesuai Keadaan hening Lalu Disinilah Satu ketika jalan sepi lalu lalang tuk kelam hilang cahaya arah -gladyoralyanto

Pemikiran Politik Barat Niccolo Machiavelli

Cerita Singkat Biografi Niccolo Machiavelli             Niccolo Machiavelli adalah pemikir filsuf yang berasal dari Italia lebih tepatnya di negara kota Florence. Niccolo Machiavelli lahir pada tahun 1467. Hidup pada masa abad pencerahan atau abad  renaissance . Niccolo Machiavelli memiliki ayah seorang ahli hukum yang berasal dari keluarga bangsawan yang membuat Machiavelli mendapatkan pendidikan terbaik dikala itu karena keinginan dari ayahnya. Ayahnya pengagum karya klasik Livius, History, dan Cicero, The Making of an Orator. Pada usia 12 Tahun Niccolo Machiavelli belajar ilmu kemanusiaan dengan Paulo Ronsiglione. Pada saat di Universitas Florence Machiavelli mempelajari kajian ilmu klasik dari Marcello Adriani.             Machiavelli adalah salah satu filsuf terbaik dunia yang ada di barat, dengan pemikirannya yang beda dan popular membuat dia semakin terkenal. D...

Manusia Lepas

Aku akan menjadi manusia lepas Dimana setiap waktu dapat terukir dari tangan Setiap ukir berasal dari hati yang tenang Setelah mendung tergantikan terang Perjalanan akan terus berjalan Sesuai dengan pohon yang meninggi rindang Seperti air mengalir mengisi ruang Jejak pun akan terhapus oleh hujan Luka menjadi perekat, tiada lagi resah Perihal mata melihat cahaya datang Kedip itu nyata dan akan mendekat Hampiri lagi dan memberikan jalan Keluar dari mendung, mengambil cahaya terang Semua bisa dihadapi, dan akan segera berlalu hilang -gladyoralyanto

Cahaya Baru Tlah Datang

Cahaya Baru Tlah Datang Masih ada harap cahaya baru Didepan sedang menunggu Hampiri dengan kebahagiaan utuh Raih dan simpan didalam relung Banyak melalui rintang berliku Semua pasti akan berlalu Lapang dada dengan haru Cahaya akan datang untuk membantu Doa akan terkabul dari apa yang dipinta Bersama rintang tlah didapati akan hilang Berikan senyum sambut bahagia Karena, Semua tlah terlewati, tlah dihadapi dengan tenang Inilah, Saatnya harapan baru datang, doa terwujud indah, hilangkan gelap terganti cahaya bersinar terang -gladyoralyanto

Hari Baru

Hari Baru Perlahan aku mendapati Kolam dengan berbagai kegaduhan Menyelami hingga tersedak perih Merintih tak kan terdengar insan Menyelam di kolam yang menyayat Ingat dengan pita yang melegenda Kebimbangan itu mengarah jelas Namun kaca dalam kolam pecah Terlempar dan menusuk jiwa Ingat dengan hukum menekan Air tertekan semakin mencuat Basah memang, berhamburan menyebar Menjadi tertanam dalam memori dengan kuat Ingat jalan yang menjadi bimbang Tlah didapati jelas itu indah Meski tersenyum dibalik kekelaman Memori dengan pasti memudar Dihapuskan oleh hujan dan awan Semua mengalir seperti yang tertuliskan Ingat baca begitu mengarah resapi Sujudlah dengan kenang sekarang Jalan benderang telah menyambut Lalui dengan pasti, sambutlah hari yang kau nanti -gladyoralyanto

Waktuku (PUISI)

"Disini tersenyum, disatu diriku melamun" Peterpan - Masa Lalu yang Tertinggal Itu cerita waktu ini Menuntun arah di waktu yang datang Kemudian kuharapkan keajaiban datang Biarkan gelap hilang diganti dengan terang Langitku masih sedikit cerah Pikirku masih bermain dengan angan Dan hariku masih penuh dengan mimpi Mereka berpesan bahwa menunggu untuk dihampiri. 4.07.16 -gladyoralyanto

Jika Ini Memang Waktuku (Puisi)

Jika Ini Memang Waktuku Jika ini memang waktuku, lantas mengapa seakan jarum jam itu bergerak menusuk? Jika ini memang waktuku, kenapa angka tak beraturan, hanya membuat geli hati Jika ini memang waktuku, berikan sedikit waktu menghela gelisah Dan jika ini waktuku, kabarkan kegembiraan itu dengan lirih. -gladyoralyanto

Malam Pemikir (PUISI)

Malam Pemikir Malamku tengah berdendang Ketika aku berbincang intim dengan angin Katanya tiada lagi awan menerpa Sedikit ragu kurasa dapatinya Hembusan memberi arah perlahan Tanah dipijak semakin ada jarak Kata lain, layarku terkembang angin menghilang Bagaimana wujudnya malam ini? Malam memaksa berpikir Bisiknya berjuang tidaklah mudah Tubuh dihempas diatas hasilnya kapas Tidur sejenak untuk ringan terasa Walaupun angin tak menemani Serta malam tengah memaksa berpikir Apa yang terjadi dibalik itu Terlena didapati, sebab tipu daya semata Semakin tertera ditengah candanya malam Perjalanan pun harus terus diperjuangkan Jangan menoleh kebelakang Jika ada padamnya api didalam kisah ini Yakinkan dengan perlahan, dan Kerjakan dengan senyuman -gladyoralyanto

Isyarat Makna (Puisi)

Isyarat Makna Mata bukan hanya dua Ketika salah mengira, baiknya membuka kembali Pesan hidup didapatkan setiap waktu Disitu juga alam mengisyaratkan Tangkap dan baca dengan tenang Karena, Mata memang tidak hanya dua, apabila disadari dalam renung Kemudian Mulut berucap kata Namun sadar atau tidak, itu bukan sekedar kata Bahkan bisa menjadi sebuah makna Makna yang bersembunyi, dan kata mengelabhui Sadari semua terdapat pesan tersirat dibaliknya Jika ingin mendapat sebuah makna Pahami dengan perlahan -gladyoralyanto

Jika Waktu(ku) PUISI

Jika Waktu(ku) Jika waktuku datang Jangan kau berikan lara pedih Bila waktuku datang Jangan kau beriku kotak berisi tulisan berlembar Jika nanti aku datang Jangan beri alas kaki itu dikakiku Bila waktuku memang datang Isilah hati jiwa dengan baik dan indah Jika tepat hariku datang Batin lahir terimalah dengan mengerti Bila kau tak mengerti tulisan ini Carilah artinya dan temani waktuku -gladyoralyanto

Teman Lama Hilang (Puisi)

Teman Lama Hilang Teman aku ingin menuliskan ini Ketika perih menghampiri Risau melanda, didepan kebimbangan Rindu seakan meninggi Cerita demi cerita tlah berlalu Tanpamu disisi, dan semua pergi Kau yang dulu menuntun Hati berputar berubah Aku menunggu disitu Keenam kata mereka Angka 6 begitu hangat bersama kita Teman kini kenapa kau jauh Datanglah kembali dengan suara hati Dengan harum wewangimu Teman maaf waktu itu tlah menutupmu Biarkan terbuka kembali Jika itu jalannya, temani dan tuntunlah -gladyoralyanto