Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Puisi

Ditengah sore dan Malam

Secangkir kopi yang diseduh Ditempat kita sedang sendu Dibawah langit memerah Perlahan lahan akhirnya padu Tenang menunggu bintang Namun tak terlihat disana Hanya bulan bersinar Datang lebih awal Sangat memukau Bulan pun menerka Namun ia tetap berputar Bahkan bisa saja lupa Benar saja gerimis datang Menetes didalam cangkir itu Sendu berubah arah Hambar terasa, ada yang hilang Sebentar, itu semakin terasa Benar itu semakin pudar Cangkir ini ingin ku ganti dengan teh hangat Agar suasana merebak, hangat memikat Dan membiarkan gerimis mengalihkan cahaya bulan Ya tetaplah iringi dan berputar, sampai waktu tak terasa Hingga hilang beban yang ada

Bersahabat Alamku

Bayangkan, betapa bodohnya kami!  Sering acuh pada sahabat seirama Pikirkan, betapa kami saling berkaitan Alam bergejolak, kita terasa perih Sebentar, Selamat istirahat kawanku! dikala semua resah Lalu rasakan kesunyian merasuki Tempat dimana bisa mawas diri, mencoba meresapi, ada apa semua ini? Kita seraya berkata Bersahabatlah alamku, Ku tau kau kecewa Sabar, ku tau kau marah Bukankah kita teman paling seirama Meski diri ini pernah menusuk Percayalah, perlahan kita akan semakin memahami Reda, buatlah reda seperti rintik gerimis setelah hujan hebat Itu dapat mensyaduhkan suasana Kau tau itu kan? Tak mungkin kau lupa Sehingga kita bisa saling mengisi dalam harmoni Kembali Bersahabatlah alamku, maafkan kecerobohan yang lalu -gladyoralyanto

Kita Ditempa

Saat ini mungkin kita akan ditempa Kepedulian akan terlihat diantaranya Atau bahkan keegosian semakin menganga Resah, semua dalam hati kecil berkata Mengapa semua ini ada? Sudah saatnya doa dan saling menjaga Mengikis egois agar tak mejelma Memupuk peduli sampai berirama Tak perlu resah hadapi masalah Sampai akhirnya semua dapat dilalui bersama -GladyOralyanto

Bukan untuk Dinilai

Tulisan ini bukan untuk dinilai, tidak bukan nilai yang harus didapati. Mengapa demikian? Jelas, tidak sadarkah kau ini bukan bangku sekolah! juga bukan bangku kuliah! Tulisan yang kau baca disini untuk dinikmati, diilhami, jika tak masuk pada batinmu atau bahkan otakmu membantah. Yasudah itu terserah kamu saja. Santai saja nikmati, jika meresap itu berkah. Seperti itulah jika kau membaca rangkaian kata disini Telah banyak berlaga otakmu, hingga hatimu tidak kau beri waktu untuk bekerja Tengok, begitu saja sudah merasa paling benar, bahkan menuduh tulisan ini begitu tak berguna Sampai - sampai kau tidak bisa merasakan dimana arti tiap makna Sudah jangan kaku,  tidak apa - apa masih ada waktu untuk nikmatinya Istirahatlah, mampirlah untuk meresapi kata - kata ini lain waktu. Nanti kau kan tau -Gladyoralyanto

Pintu Tua

Desis suara pintu tua sudah tidak pernah berbunyi, sepertinya tidak ada yang mengetuk dan mampir sejenak, atau bahkan membuka pintu itu juga tidak pernah. Pintu itu pun terlihat semakin lemah tak terawat. Coba dilihat seksama, mengapa pintu itu semakin tua namun tak pernah ada yang membuka bahkan untuk sekedar mengetuk pun tidak terpikirkan. Akhirnya, Semakin lama semakin rapuh! Kau tau itu sungguh menyesakkan, mengapa tak ada yang peduli pada pintu itu. Dasar! padahal dibaliknya terdapat sebuah hal yang tidak akan terduga sebelumnya, kau tidak percaya? coba buka setidaknya itu akan memberikan pandangan baru. Coba, ingat tidak mengenai dongeng atau bahkan cerita kartun pintu untuk menuju tempat yang didambakan seperti mimpi bentuknya seperti apa? Yap, fana mengecohkan semua mata sehingga banyak yang tidak bisa mengilhami bahwa itu ada yang begitu indah seperti mimpi! ah sudahlah kurangi semua pikir pendek itu. Coba sekarang, ketuk saja, buka, dan rasakan indahnya!  -G...

Masyarakat Gusar, Katanya!

Gila... apa sudah gila? Banyak peluh dimana - mana Orang - orang semakin tak lagi bisa menggunakan akal bersihnya Lihat saja... banyak salah sasar dan banyak merasa paling benar Saling tuduh di sekitar Saling tunjuk salah diantaranya Tontonan tak banyak menjadi tuntunan Banyak orang pintar, tapi nyatanya ringan menjatuhkan Pinter keblinger kata orang Sekarang mau bagaimana Ketika semua orang jadi semakin tidak benar adanya Tidakkah akan hadir sebuah titik baliknya? -GO

Wah..Sial!

Ah.. bodohnya aku kutarik saja kain itu seketika merubah keadaan! hancur, retak sudah isinya semula normal, semula jalan namun seketika berubah! hitam, bergaris, tak normal! ah bodohnya aku, kutarik kain itu berakhir remuk retak isinya... -GO

Bulan Sejenak Menutup Mentari

Kali ini bulan menutupi mentari yang bersinar Meski tidak semua tertutup olehnya Bulan menunjukkan, bahwa dia mampu menutup terik sang Mentari Meski Bumi menjadi sedikit redup Tetapi begitu hangat dan hilang sedikit pelik Dikala Mentari begitu panasnya Bulan rela memberi raga Agar Bumi sejenak terjaga Dengan begitu terik menyengat menjadi reda Singkat dan sejenak Namun memberi banyak mata terpana Sehingga bisa memberi makna Percayalah kisah ini menjadi sejarah

Sandaran

Manusia tidak selalu berdiri tegap Seperti kaki melangkah akan berhenti walau sejenak Mata terjaga sepanjang hari diselingi kedip Suatu nanti mencari sandaran dikala letih Sepanjang hari jalani mimpi Manusia dapati letih Sejenak merenungi apa yang terjadi Kini mimpi - mimpi seakan pergi Kini bagai pohon layu Dan bagai lari pada titik semu Tidak mengetahui arah laju Sadar kini harus bersandar untukku -gladyoralyanto

Malam Tak Pernah Kehilangan Bulan

Malam Tak Pernah Kehilangan Bulan Biarkan bulan datang menyapa Dikala gelap malam dan ramai bintang Kerangka malam tak dapat ditebak Siapa tahu jaraknya langit Untuk menempuh hingga ke bulan Perlahan dengarkan hembus malam Kala melebur diantara kalbu Malam tak pernah lupa Bagaimana ia akan berganti dengan terang Cerita demi cerita yang bertubi terhempas Mengiringi arah angin yang begitu dingin Dimana udara tak lagi menyegarkan Semakin dalam untuk merasa hingga ke relung Dan kemudian Satu hal yang kini nyata Di malam hari, dimana cahaya bulan tak pernah padam Meski dalam gerhana, purnama selalu datang Biarpun tertutup kelabu masih akan tetap hadir dalam sendu -gladyoralyanto

Puisi Pitutur Diri

Pitutur Diri Bukankah jalanmu telah dituliskan Jalan yang begitu terang benderang Bahkan gelap tak akan menyelimuti Lantas apa yang kau risaukan Bukankah pohon akan tetap tumbuh Dengan hijaunya membuat mata berseri Laksana air yang menyegarkan Mengapa kau begitu sayu Bukankah purnama akan selalu datang Bahkan gerhana tidak akan bisa menenggelamkannya Sinarnya selaras dengan tuntunan-Nya Kenapa kau terlihat muram Bukankah embun pagi selalu hadir setelah kelamnya malam Bahkan tetesnya begitu menginspirasi Tak pernah lelah hadir sesaat hilangnya malam Mengapa kau terlalu pupus Laksana syafaat hadir setiap lantunan Pertolongan akan selalu dekat Dimana nikmat akan selalu diberi Keajaiban akan menghampiri -gladyoralyanto

Waktu Datang Malam

Waktu Datang Malam Ada waktu datang dalam diam Perlahan mata memandangi Dibawah naungan perih Tiada rasa dalam raga mengilhami Hanya didapati sesuatu hal muram Pernah, waktu bersahabat Diarungi dengan resah tak berlelah Mendapati secercah lembar buku usang Lembar usang terlupa, lenyap, terpendam Ada waktu cerita pita bercerita, berkata baik tak terbaik Itulah sebabnya yang terpendam semakin tersimpan, semakin keluar Meski di sudut tengah kota membeku Tak kan pernah sedikit nada hilang menemani Apa malam penyesalan hadir meliputi kelam Tenang, tak bersuara, sunyi tak bertepi Dapatkah hapus memori penuh luka Berlari semakin jauh entah untuk apa Api pun tak dapat membakar kenang itu Coba, cobalah tengok sudut lain Cerita pita mempunyai indahnya Meski ditempat pertama terukir kenang itu Tapi, Apanya yang bahagia? katamu Kering, kering, luka semakin mengering Dengar suara berbisik yang semakin mengering Masih tersimpan dalam bait-bait yang hilang Kota ini, sampai ...

Sosok yang Hilang

Sosok yang Hilang Bertahan arungi waktu memang tak mudah Bahkan ketika kehilangan sosok yang ada Bukankah waktu telah terbentang lama Jalan yang terlalui menjadi renta Terbalut pekatnya awan hitam Tak ingat akan rupa dunia Pelik mata selalu membasuh rasa Perhatikan mata yang selalu terjaga Tak akan ada yang memahami arti maknanya Jalan kehidupan apa yang merasukinya Skenario apa yang menjadikannya lemah Namun itu seperti kepompong yang dibiaskan Rindu sosok menjadi tekanan Seperti kata kala itu Semakin disimpan semakin keluar Ada sesuatu yang ditekan dan tertahan Bersabar menunggu jawaban di pundaknya Kemudian bangkit dari tidur lamanya Ada sebuah keyakinan tersimpan Pelik hati tertanam suara yang teredam Pita memiliki ujung, kelam akan selesai pada waktunya Kemudian itu masih terbuka, menanti dalam diam

Menatap

Menatap Berhenti sejenak Kaki semakin tertatih jalani Mata terpejam lelah terjaga Menanti akan cahaya baru Apa yang mereka dapati Bukankah hanya ilusi semata Meski cerita tak lagi sama Dan Masih bersembunyi dalam kelam Terlampau jauh jalan untuk pulang Sendiri merintih dikesunyian Bantulah kawan, meski ceritanya tak teraba Ingatlah tentang suatu kata, Tertulis dalam buku usang yang terpendam Semakin disimpan semakin keluar Lebih dari cerita pita Menatap untuk sebuah pelita Seakan ini berputar pada titik semu Menatap kembali cahaya untuk pulang Sudut tengah kota, sudut tengah harap Betapa pilu tercercah harapan ditulisnya Namun semesta berkata, senja masih memerah Berikan makna, jalan akan indah, ini waktunya Terbangunlah segera semua makna Kembali menatap harap baru Dan, Jika kata tak tersampaikan Rasa tak tersentuh Gelisa semakin terenyuh Percayalah Doa menjadi harapan pasti dikabulkan -gladyoralyanto

Satu Ketika

Satu Ketika Satu ketika tahun mengulangi Berairlah tanah ini menjadi sepi Apa bulat apa tekad satu tak ketika berpadu Jalan kembali sedikit cahaya cerah Bola mata ini mencari Titihan buat tertatih Bayang akan memuai Jalan kencang tuk cari pagi Pagi tak tumpah Cerah tak ada Cahaya kemana kau berada Disini satu ketika tahun mengulangi Biar menguap bersama api menjalar Keadaan tak sesuai Keadaan hening Lalu Disinilah Satu ketika jalan sepi lalu lalang tuk kelam hilang cahaya arah -gladyoralyanto

Manusia Lepas

Aku akan menjadi manusia lepas Dimana setiap waktu dapat terukir dari tangan Setiap ukir berasal dari hati yang tenang Setelah mendung tergantikan terang Perjalanan akan terus berjalan Sesuai dengan pohon yang meninggi rindang Seperti air mengalir mengisi ruang Jejak pun akan terhapus oleh hujan Luka menjadi perekat, tiada lagi resah Perihal mata melihat cahaya datang Kedip itu nyata dan akan mendekat Hampiri lagi dan memberikan jalan Keluar dari mendung, mengambil cahaya terang Semua bisa dihadapi, dan akan segera berlalu hilang -gladyoralyanto

Cahaya Baru Tlah Datang

Cahaya Baru Tlah Datang Masih ada harap cahaya baru Didepan sedang menunggu Hampiri dengan kebahagiaan utuh Raih dan simpan didalam relung Banyak melalui rintang berliku Semua pasti akan berlalu Lapang dada dengan haru Cahaya akan datang untuk membantu Doa akan terkabul dari apa yang dipinta Bersama rintang tlah didapati akan hilang Berikan senyum sambut bahagia Karena, Semua tlah terlewati, tlah dihadapi dengan tenang Inilah, Saatnya harapan baru datang, doa terwujud indah, hilangkan gelap terganti cahaya bersinar terang -gladyoralyanto

Hari Baru

Hari Baru Perlahan aku mendapati Kolam dengan berbagai kegaduhan Menyelami hingga tersedak perih Merintih tak kan terdengar insan Menyelam di kolam yang menyayat Ingat dengan pita yang melegenda Kebimbangan itu mengarah jelas Namun kaca dalam kolam pecah Terlempar dan menusuk jiwa Ingat dengan hukum menekan Air tertekan semakin mencuat Basah memang, berhamburan menyebar Menjadi tertanam dalam memori dengan kuat Ingat jalan yang menjadi bimbang Tlah didapati jelas itu indah Meski tersenyum dibalik kekelaman Memori dengan pasti memudar Dihapuskan oleh hujan dan awan Semua mengalir seperti yang tertuliskan Ingat baca begitu mengarah resapi Sujudlah dengan kenang sekarang Jalan benderang telah menyambut Lalui dengan pasti, sambutlah hari yang kau nanti -gladyoralyanto

Waktuku (PUISI)

"Disini tersenyum, disatu diriku melamun" Peterpan - Masa Lalu yang Tertinggal Itu cerita waktu ini Menuntun arah di waktu yang datang Kemudian kuharapkan keajaiban datang Biarkan gelap hilang diganti dengan terang Langitku masih sedikit cerah Pikirku masih bermain dengan angan Dan hariku masih penuh dengan mimpi Mereka berpesan bahwa menunggu untuk dihampiri. 4.07.16 -gladyoralyanto

Jika Ini Memang Waktuku (Puisi)

Jika Ini Memang Waktuku Jika ini memang waktuku, lantas mengapa seakan jarum jam itu bergerak menusuk? Jika ini memang waktuku, kenapa angka tak beraturan, hanya membuat geli hati Jika ini memang waktuku, berikan sedikit waktu menghela gelisah Dan jika ini waktuku, kabarkan kegembiraan itu dengan lirih. -gladyoralyanto