Skip to main content

Posts

Opini Saya

Pernah ada tulisan kata per kata, bait per bait, paragraf per paragraf ataupun lembar per lembar. Namun tulisan itu tak sebermakna tulisan Chairil Anwar, tulisan itu tak se berani dan se menentang tulisan Wiji Thukul, tulisan mereka memang berkesan. Kemudian pernah ada lisan yang semarak mencengang dan menggelegar. namun lisan itu tak sekuat pengaruhnya lisan Soekarno, ataupun lisan Bung Tomo, lisan mereka mengobarkan jiwa yang redup, dan membuat insan tiap insan bersatu padu. Ini hanya contoh sosok insan terdahulu yang dikenal hebat, maaf bukan sebagai provokasi ataupun memberi kesan tulisan dan lisan saat ini tidak bermutu. Hanya saja rindu sosok dan nuansa seperti itu, mungkin bedanya dulu memang tak terlalu banyak orasi dan narasi disana sini yang terkadang hasilnya sedikit membingungkan.

Opini Sejarah Dongeng Pemimpin Indonesia

Disini pernah ada garuda yang memandang tajam kedepan, bersuara menggelegar, kepakannya menjulang dan cengkramanya kuat, namun suatu ketika garuda itu ditangkap dan dikurung rapat hingga lemah tak berdaya Setelah itu datanglah sebuah ular weling yang merayap diam perlahan lalu mematuk dengan racun mematikan dan tidak membiarkan lawannya bersikap sedikitpun. namun seberacunnya ular weling itu akhirnya ia kalah juga oleh lawan-lawannya seperti bunga dan tembok Setelah kedua itu tiada, belum terdengar kembali sosok yang terkenang hebat, disini berlari tapi tidak melaju. Masih merindukan dan mengulas sosok-sosok itu. bahkan jati diri, berdikari, menjadi macan, kini sepertinya hanya tinggal kenangan belaka. Seperti cerita dongeng kala kedua hal itu pernah menebar disini, yang kemudian bisa dipelajari apa maksud dan alurnya masing-masing

Mengenang Jiwa Lalu

Aku rindu akan jiwa-jiwa itu... Jiwa tenang Tanpa kenodaan warna kepentingan Ingat darimana asal Bagaimana tujuan Proses ini bukan tentang eksistensi Hanyalah tanggung jawab dedikasi Rebah dua tangan itu untuk semua Berdiri dalam panggilan hati Senyum untuk ketulusan Walaupun, mata melihat tanpa terlihat Badan meronta tanpa terangkat Ah Lirih ini cukup mencuap, Pulihkan semua tiang penyangga Dan nanti, Semoga tetap terbuka naungan keikhlasan Dan segera wujud akan kesadaran Berjuanglah meskipun berdiri terinjak!

Manusia Bodoh

Manusia Bodoh Kami adalah manusia bodoh Turun untuk belajar Datang untuk belajar Demi mengerti, bukan mengejar nilai dan pintar belaka Kami memang manusia bodoh Bukan Tuhan dan juga bukan Nabi Yang sempurna dan tanpa salah Kami memang manusia bodoh Dengan segala keputusan pilihan tapi tetap dalam pertimbangan Salah itu pasti, datang dari kami manusia yang kau anggap bodoh Tapi kami memang sangat bodoh Hidup untuk dedikasi Bukan hanya untuk eksistensi dan akademisi Tanpa memikir diri kami sendiri Walau dengan banyak cemooh Dan pandangan sebelah mata saja Kami  berpikiran bodoh Untuk ini, kamu, dan kita semua Karena kami memang bodoh, Tanpa banyak teori tapi aksi Demi untuk perubahan dan kemajuan kita semua -gladyoralyanto

Malam Minggu Menipu!

Malam Minggu Menipu! Kata tuan ini malam minggu indah Tuan bertata dengan 1000 asah Kemudian menghanyutkan suasana Dibalik hujan yang merana Gerik mata yang mengembang, dan Gelak tawa memadu perih Senyuman itu palsu dipertontonkan Mama tolonglah, malam mingguku ini beda Peluklah diriku yang tlah ditipu dunia Dibalik hujan malam minggu ini, ku rasa gelisah karena semua kata tuan itu Tuan yang memang bertata baik, namun busuk nyatanya! Enyahlah! -GO-